Dalam Family and Child Social Work terdapat teori tentang rencana
penetapan pengasuhan anak yaitu Permanency
Planning.
Showing posts with label social welfare. Show all posts
Showing posts with label social welfare. Show all posts
Thursday, May 31, 2012
Saturday, January 21, 2012
Penyaluran Bakat Kaum Difabel
assalamualaikum
articel merupakan ringkasan articel yang diambil dari sebuah makalah, dan makalah tersebut tujuannya ditunjukan sebagai bahan referensi materi seminar yang bertemakan difabel. para penulisnya adalah Arrinda Almadea, Rindu Adzani T, Dimas Fattah, Zulfahmi Mulya, Dwi Astri M.P,
FerdianaSandi, Anis Wardatul Jannah, Dhita Miranda, Eti Suryawati, Abil
Vareszah. tiada motivasi khusus melatarbelakangi mempublish articel ini, hanya mencoba berbagai referensi kepada setiap orang yang concern kepada kaum difabel. semoga bermanfaat.
Dalam dunia internasional, istilah disability mengalami
perubahan, antara lain: cripple, handicapped, impairement, yang kemudian lebih
sering digunakan istilah people with disability atau disabled people. People
with disability kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi penyandang
cacat yang pada awalnya menggunakan istilah penderita cacat.
Istilah penderita cacat sangat berkesan diskriminatif
karena memandang seseorang memiliki salah satu jenis penyakit atau lebih yang
mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Perubahan penggunaan istilah penderita
cacat menjadi penyandang cacat mulai dikenalkan pada penetapan UU no. 4 th.
1997, yang menempatkan posisi penyandang cacat dengan cenderung menghaluskan
istilah tersebut.
Istilah ini pada dasarnya masih digunakan secara luas di
berbagai publikasi ataupun media massa, tetapi berbagai aktivis sosial
berpendapat bahwa penggunaan istilah ini memiliki arti sempit yang masih tetap
menempatkan seseorang dalam posisi yang tidak 'normal' dan tidak mampu karena
kondisi kecacatan yang dimilikinya. Hingga akhirnya pada tahun 1997, penggunaan
istilah difabel mulai dikenalkan kepada masyarakat secara luas.
Indonesia sebagai Negara yang memiliki keramah
tamahan yang tinggi, seharusnya juga ramah terhadap perbedaan yang ada,
khususnya terhadap kaum difabel. Istilah difabel merupakan pengindonesiaan dari
kependekan istilah different abilities people (orang dengan kemampuan yang
berbeda).
Dengan istilah difabel, masyarakat diajak untuk
merekonstruksi nilai-nilai sebelumnya, yang semula memandang kondisi cacat atau
tidak normal sebagai kekurangan atau ketidakmampuan menjadi pemahaman terhadap
difabel sebagai manusia dengan kondisi fisik berbeda yang mampu melakukan
aktivitas dengan cara dan pencapaian yang berbeda pula.
Dengan pemahaman baru itu masyarakat diharapkan tidak
lagi memandang para difabel sebagai manusia yang hanya memiliki kekurangan dan
ketidakmampuan.Sebaliknya, para difabel, sebagaimana layaknya manusia umumnya,
juga memiliki potensi dan sikap positif terhadap lingkungannya.
Sebenarnya kaum difabel dapat mandiri dan berprestasi
jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mendukung. Sehingga semua jaminan
atas akses fasilitas terhadap kaum difabel tidak hanya sebatas payung hukum.
Tiba saatnya kaum difabel diakui dan dijamin hak-haknya. Sebagaimana 30 tahun
silam United Nations Declaration of the Rights of Disabled Persons (1975)
menyatakan:
"Kelompok difabel memiliki hak yang bersifat melekat
untuk dihormati martabatnya sebagai manusia." Yang dibutuhkan bukanlah belas
kasihan karena difabilitas dipandang sebagai "ketidaknormalan" atau
"kecacatan." Melainkan kesadaran menciptakan tatanan yang adil secara
bersama-sama. Sebuah tatanan yang memberikan jaminan dan pemenuhan terhadap hak
setiap warga negara, tanpa terkecuali.
Secara umum setiap manusia memilki kepribadaian dan
personalitas yang unique, tidak terkecuali kaum difabel. Oleh karena itu kaum
difabel pun membutuhkan sarana prasarana untuk mengaktualisasikan dirinya. Salah
satunya adalah dengan cara menyalurkan bakatnya di bidang seni.
Penyandang Cacat Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial
"Kesejahteraan Sosial adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial
materiil maupun spirituil yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan
ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warganegara untuk
mengadakan usha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial
yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung
tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila"
Rumusan diatas menggambarkan Kesejahteraan Sosial sebagai
suatu keadaan di mana digambarkan secara ideal adalah suatu tatanan (tata
kehidupan) yang meliputi kehidupan material maupun spiritual, dengan tidak
menempatkan satu aspek lebih penting dari yang lainnya, tetapi lebih mencoba
melihat pada upaya mendapatkan titik keseimbangan.
Titik keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan
antra aspek jasmaniah dan rohaniah, ataupun keseimbangan antara aspek material
dan spiritual. Penyandang cacat mempunyai peran yang sama dengan
warga negara lainnyya dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Melihat
undang-undang pemerintah No. 43 tahun 1998 meurpakan salah satu usaha yang
dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang cacat. Oleh
karena itu peran pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan
penyandang cacat.
Pemerintah Daerah dengan kewenangannya akan terus
mendorong berbagai kekuatan masyarakat baik perorangan, kelompok maupun
Institusi supaya mengembangkan kepeduliannya. Jika selama ini kepeduliannya
sebatas menyantuni, maka ke depan diperluas dengan kepedulian dibidang yang lain
seperti: Pertama, turut aktif memasyarakatkan peraturan perundangan untuk
penyandang cacat terutama bagi kelompokmasyarakat yang potensial.
Dua, mendorong masyarakat pengusaha semakin terbuka
untuk menerima tenaga kerja penyandang cacat. Indonesia sebagai Negara yang
memiliki keramah tamahan yang tinggi, seharusnya juga ramah terhadap perbedaan
yang ada, khususnya terhadap kaum difabel. Istilah difabel merupakan
pengindonesiaan dari kependekan istilah different abilities people (orang
dengan kemampuan yang berbeda).
Dengan istilah difabel, masyarakat diajak untuk
merekonstruksi nilai-nilai sebelumnya, yang semula memandang kondisi cacat atau
tidak normal sebagai kekurangan atau ketidakmampuan menjadi pemahaman terhadap
difabel sebagai manusia dengan kondisi fisik berbeda yang mampu melakukan
aktivitas dengan cara dan pencapaian yang berbeda pula.
Dengan pemahaman baru itu masyarakat diharapkan tidak
lagi memandang para difabel sebagai manusia yang hanya memiliki kekurangan dan
ketidakmampuan.Sebaliknya, para difabel, sebagaimana layaknya manusia umumnya,
juga memiliki potensi dan sikap positif terhadap lingkungannya.
Sebenarnya kaum difabel dapat mandiri dan berprestasi
jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mendukung. Sehingga semua jaminan
atas akses fasilitas terhadap kaum difabel tidak hanya sebatas payung hukum.
Tiba saatnya kaum difabel diakui dan dijamin hak-haknya. Sebagaimana 30 tahun
silam United Nations Declaration of the Rights of Disabled Persons (1975)
menyatakan:
"Kelompok difabel memiliki hak yang bersifat melekat
untuk dihormati martabatnya sebagai manusia." Yang dibutuhkan bukanlah belas
kasihan karena difabilitas dipandang sebagai "ketidaknormalan" atau
"kecacatan." Melainkan kesadaran menciptakan tatanan yang adil secara
bersama-sama. Sebuah tatanan yang memberikan jaminan dan pemenuhan terhadap hak
setiap warga negara, tanpa terkecuali.
Secara umum setiap manusia memilki kepribadaian dan
personalitas yang unique, tidak terkecuali kaum difabel. Oleh karena itu kaum
difabel pun membutuhkan sarana prasarana untuk mengaktualisasikan dirinya. Salah
satunya adalah dengan cara menyalurkan bakatnya di bidang seni.
Tiga, melakukan kegiatan pembinaan atau pelatihan,
sehingga produktivitas kerja dan kredibilitas penyandang cacat semakin
berkualitas. Empat, menjadi penghubung atau mediator bagi
kepentingan penyandang cacat disatu pihak dan kepentingan diberbagai Institusi
dilain pihak.
Dengan demikian, diharapkan perluasan peran tidak
hanya pada unsur masyarakat, tetapi juga oleh instansi dan lembaga-lembaga
pemerintah menurut kapasitas, kewenangan dan kemampuan yang dapat diperbuatnya
untuk penyandang cacat.
Penyaluran Bakat Bidang Seni Bagi Kaum Difabel
Di Indonesia sendiri kebanyakan penyaluran bakat bagi
kaum difabel sudah masuk kedalam program rehabilitasi sosial. Tempat-tempat
penyaluran bakat bagi kaum difabel seharusnya banyak didirikan oleh pemerintah
untuk menampung bakat mereka, sehingga kehidupan mereka tidak terlantar dan
bergantung banyak kepada orang sekitarnya. Boleh dibilang tempat penyaluran
bakat yang khusus untuk menyalurkan bakat bagi kaum difabel di Indonesia masih
dibilang jarang.
Hal itu terbukti masih banyaknya kaum difabel yang susah
menyalurkan dan mengembangkan bakat potensial yang ada di dalam diri mereka.
Biasanya tempat-tempat yang dapat menampung mereka kebanyakan dari pihak swasta
atau LSM.
Salah satu tempat yang bisa menjadi ajang tempat
penyaluran bakat bagi kaum difabel adalah HIPSDI (Himpunan Pelaku Seni
Diferensia Indonesia). Perkumpulan ini dibentuk untuk menampung potensi dan
mengembangkan bakat dibidang seni orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik.
Kata diferensia dipilih untuk mengantikan kata cacat yang bermakna negatif.
Kata cacat dianggap tidak layak lagi digunakan untuk
manusia. Selain itu, tidak selamanya penyandang kekurangan fisik juga kalah
dalam berkarya. Dalam deklarasi ini pencinta seni diferensia menolak
diperlakukan diskriminatif Sebagai kreasi pertama HIPSDI, sejumlah anggota akan
mengikuti festival penyandang cacat di Beijing, Cina pada pertengahan bulan
ini.
Pada umumnya para kaum difabel yang mempunyai bakat
terpendam di bidang seni diberikan motivasi dan pendekatan secara psikologis,
setelah dirinya merasa sudah memiliki rasa percaya diri barulah potensi yang ada
dalam diri mereka dikembangkan. Dari situlah bakat yang tadinya hanya sebatas
keinginan mereka dan impian mereka saja bisa dikembangkan sampai si penyandang
cacat tersebut sudah bisa dan mampu menyalurkan bakatnya dengan percaya diri.
Tidak sedikit hasil karya mereka membuat orang normal seperti kita merasa kagum
dan tidak percaya.
Dalam pemberian motivasi agar para penyandang cacat
tersebut tidak jenuh dan semangat, biasanya diselingi dengan permainan-permainan
yang membuat spontanitas mereka keluar. Pemberian motivasi biasanya dilakukan
secara berkelanjutan dan bertahap, agar mereka tidak kaget jika diberikan dalam
jumlah banyak dan dalam waktu singkat. Disini dukungan dan peran keluarga
sangatlah penting dalam pengembangan dan penyaluran bakat bagi para penyandang
cacat.
Biasanya para penyandang cacat bisa lebih terbuka dan mau
mendengarkan pengalaman atau nasihat-nasihat yang baik dari sesama penyandang
cacat juga. Hal itu disebabkan oleh pola pikir mereka yang merasa senasib
sependeritaan dengan keadaan yang mereka alami, dan itu terbukti efektif dalam
membantu penyandang cacat menghadapi keterbatasannya.
Monday, January 16, 2012
Peksos penolong diri sendiri dan juga orang lain. by Hery
assalamualaikum
harus diakui menjadi suatu kebanggan dan penghormatan bagi penulis dapat mencantumkan tulisan Bapak Hery Wibowo. sebagai seorang akedemisi (Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial) dan praktisi pekerja sosial. beliau memang sering menuangkan opini dan ide-ide creativesnya pada suatu tulisan. pada kesempatan ini, penulis berkesempatan menaruh tulisan beliau di blog penulis.
harus diakui menjadi suatu kebanggan dan penghormatan bagi penulis dapat mencantumkan tulisan Bapak Hery Wibowo. sebagai seorang akedemisi (Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial) dan praktisi pekerja sosial. beliau memang sering menuangkan opini dan ide-ide creativesnya pada suatu tulisan. pada kesempatan ini, penulis berkesempatan menaruh tulisan beliau di blog penulis.
sebenarnya tulisan bapak Hery Wibowo telah dimuat di
InilahKoran edisi Minggu 8 Januari. penulis sendiri tidak memilki motivasi
khusus mengapa mengutip/menaruh tulisan beliau di blog penulis, hanya saja,
penulis rasa tulisan yang di buat beliau sangat informatif dan bermanfaat.
tentunya, tulisan yang baik ini haruslah di publishkan secara luas. agar
nantinya tulisan ini dapat bermanfaat bagi orang banyak.ha ha
dan tidak perlu berlam-lama dibawah ini adalah tulisan
beliau:
Komunikasi Apresiatif
Tanpa terasa, saat ini kita sudah memasuki
tahun 2012. Tanpa terasa pula 360an hari telah berlalu dari januari
2011.Sungguh, perjalanan waktu sering berjalan tanpa disadari. Rasanya baru
bangun pagi tahu-tahu sudah sore. Rasanya baru hari Senin, tahu-tahu sudah Sabtu
dan seterusnya.
Awal tahun, awal periode atau awal musim, seringkali
dijadikan sebagai titik berangkat untuk sesuatu yang baru. Pada saat-saat inilah
biasanya individu mulai mengevaluasi hasil kerjanya di periode lalu dan
merencanakan aktivitas untuk periode berikutnya. Bagi beberapa orang momen
pergantian waktu adalah saat-saat yang mendebarkan, karena akan menentukan pola
aktivitasnya, apakah akan berlanjut atau tidak. Bagi para pimpinan, momen ini
juga merupakan hal yang cukup menantang, karena mereka harus membuat keputusan
terkait kinerja yang telah dicapai, apakah akan melanjutkan, menghentikan,
menambah, mengurangi dan sebagainya.
Anyway, secara umum, inilah saat dimana setiap kita
perlu melakukan kontenplasi dan introspeksi terkait tingkah laku dan kinerja
kita sendiri, karena kita akan melanjutkan perjalanan kehidupan kita. Namun
demikian, satu hal yang perlu disadari bersama adalah bahwa pergantian waktu
tidak harus diidentikkan dengan pergantian tahun. Seyogianya, momen pergantian
hari juga merupakan saat yang tepat untuk melakukan introspeksi, yaitu 'apakah
hari ini kita sudah lebih baik dari hari kemarin, atau sebaliknya lebih buruk'.
Maka, biasanya inilah momen-momen yang penuh kegembiraan dan harapan. Inilah
saat-saat dimana hari-hari kita penuh dengan motivasi, penuh dengan imajinasi
akan kesuksesan yang dibayangkan akan diraih, dan penuh dengan asa untuk
keberhasilan yang lebih besar.
Sayangnya, selain beberapa kondisi dimuka, terdapat
hal-hal yang berpotensi membuat momen pergantian waktu menjadi saat-saat yang
tidak menyenangkan. Karena sering kali momen ini dijadika momen untuk
1. Mencari kambing hitam atas kebelumtercapaian target
2. Mencari pihak yang paling disalahkan atas kebelumserpunaan pencapaian yang ditargetkan
3. Menebar teror kepada semua pihak terkait kebelumberhasilan aktivitas yang ditentukan sebelumnya.
1. Mencari kambing hitam atas kebelumtercapaian target
2. Mencari pihak yang paling disalahkan atas kebelumserpunaan pencapaian yang ditargetkan
3. Menebar teror kepada semua pihak terkait kebelumberhasilan aktivitas yang ditentukan sebelumnya.
Oleh karena itu, tidak semua pihak merasa gembira dan
ceria menyambut momen pergantian waktu. Maka, agar momen pergantian waktu tidak
menjadi hal yang menyeramkan dan menimbulkan kecemasan, perlu dipikirkan
strategi baru yang memungkinkan kita dapat mengapresi hasil yang telah dicapai,
alih-alih sekedar mencari kesalahan. Perlu diusahakan mendapatkan cara baru
yang memungkinkan kita untuk mengukur pencapaian yang telah didapat, alih-alih
sekedar mencari kekurangan dan kelemahan.
Berpikir Apresiatif
Berdasarkan
uraian dimuka, maka diperlukan perubahan pola pikir untuk membuat suasana jauh
lebih ceria dan jauh lebih memotivasi. Diana Withney dan Amanda Trosten dalam
buku Apreciative Inquiry mengajarkan kita sesuatu yang menarik, yatiu tentang
berpikir apresiatif. Berpikir apresiatif menurut mereka bukan berarti menafikkan
apa yang negatif.. Bukan membutakan diri terhadap kelemahan. Bukan tidak
mengakui kekurangan. Setiap orang pasti pernah salah. Bahkan setiap Negara pasti
pernah mengalami kegagalan. Maka berpikir apresiatif adalah upaya menghargai apa
yang ada pada diri kita, mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui.
Melalui berpikir apresiatif kita diajak untuk lebih fokus pada apa yang terbaik
dari manusia dan sistem manusia, dan apa yang memberi nafas pada kehidupan.
Komunikasi Apresiatif
Pertanyaan selanjutnya adalah,
bagaimana cara kita berpikir apresiatif? Bagaimana cara kita mempraktikannya
dalam kehidupan sehari-hari? Salah satunya adalah dengan mulai mengubah cara
kita berkomunikasi, tanpa kita sadari cara kita berkomunikasi mencerminkan
bagaimana kita berpikir terhadap sesuatu. Sebagai contoh, ketika kita dihadapkan
pada sesuatu yang tidak kita senangi atau tidak diharapkan, kita cenderung untuk
langsung mencari kesalahan atau berusaha menemukan biang-keroknya.Selanjutnya bahasa atau pernyataan yang muncul, cenderung diawali oleh kata 'why' (mengapa) seperti contoh-contoh berikut ini:
1. "Mengapa target tahun ini tidak tercapai?
2. "Mengapa masih banyak pekerjaan yang belum selesai?"
3. "Mengapa ruangan ini selalu berantakan?"
4. "Mengapa setiap saya menggunakan telepon, pasti sedang digunakan?"
5. "Mengapa pencapaian kita tahun ini jauh dibawah tahun lalu?"
6. "Mengapa masih banyak yang melakukan kesalahan, padahal kita sudah sering sekali membahas masalah ini?"
Jika kita perhatikan, ada beberapa hal yang muncul
ketika pertanyaan 'why' dikemukan:
1. Cenderung berorientasi masa lalu
2. Cenderung mencari siapa/dimana sumber kesalahan (kambing hitam).
3. Cenderung tidak menghargai hasil yang telah dicapai,
Maka, secara umum dapat dikatakan bahwa pertanyaan 'why' cenderung kurang membuat semangat dan bahkan dapat menurunkan antusiasme.
1. Cenderung berorientasi masa lalu
2. Cenderung mencari siapa/dimana sumber kesalahan (kambing hitam).
3. Cenderung tidak menghargai hasil yang telah dicapai,
Maka, secara umum dapat dikatakan bahwa pertanyaan 'why' cenderung kurang membuat semangat dan bahkan dapat menurunkan antusiasme.
Appreciative thinking, mengajarkan kita untuk menghargai
hal-hal yang telah dicapai. Berpikir apresiatif, juga mengajak kita untuk
mensyukuri apa yang telah kita miliki dan tidak terlalu memusingkan hal-hal yang
belum dalam genggaman. Oleh karena itu, praktik berpikir apresiatif yang dapat
kita lakukan salah satunya adalah dengan mengganti pertanyaan 'why' tersebut
dengan pertanyaan 'what', seperti:
1. "Baik, kita sudah tau kondisi kita, lalu apa lagi ya, yang bisa ditingkatkan?
2. "Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk memperbaiki yang ada, apa alternatif lainnya?"
3. "Apa ada usulan solusi lain? "
4. "Apa ada yang punya pendapat untuk meningkatkan hasil yang telah kita raih?" dll
1. "Baik, kita sudah tau kondisi kita, lalu apa lagi ya, yang bisa ditingkatkan?
2. "Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk memperbaiki yang ada, apa alternatif lainnya?"
3. "Apa ada usulan solusi lain? "
4. "Apa ada yang punya pendapat untuk meningkatkan hasil yang telah kita raih?" dll
Berdasarkan beberapa contoh pertanyaan dimuka, tampak
bahwa pertanyaan 'what' cenderung:
1. Fokus ke masa depan (tidak terlalu mempermasalahkan masa lalu)
2. Tidak menyalahkan atas apa yang belum dicapai
3. Mencari solusi dari kondisi yang ada
Tentunya, pergantian jenis pertanyaan dimuka cenderung kontekstual dan kondisional. Namun demikian, pada sebagian besar situasi, kita dapat mulai berpikir untuk memilih pertanyaan yang tepat untuk menghasilkan efek psikologis yang tepat.
1. Fokus ke masa depan (tidak terlalu mempermasalahkan masa lalu)
2. Tidak menyalahkan atas apa yang belum dicapai
3. Mencari solusi dari kondisi yang ada
Tentunya, pergantian jenis pertanyaan dimuka cenderung kontekstual dan kondisional. Namun demikian, pada sebagian besar situasi, kita dapat mulai berpikir untuk memilih pertanyaan yang tepat untuk menghasilkan efek psikologis yang tepat.
Pertanyaan 'what' dalam hal ini, cenderung berfokus pada
solusi dan berorientasi pada masa depan, sehingga dapat mendorong antusiasme.
Walaupun tidak mengubah masalah, namun paling tidak dapat mendorong cara pandang
baru terhadap bagaimana kita melihat masalah.
Akhir kata, kepada seluruh keluarga besar PEKSOS, semoga
dapat mencapai harapan yang dicita-citakan. Hidup terlalu singkat untuk diisi
dengan keluh kesah, dan terlalu berharga untuk diisi dengan pikiran negatif.
Maka, mari menjadi pribadi yang lebih baik dengan selalu berpikir bahwa kita
tidak mungkin mendapatkan seluruh yang kita inginkan, namun demikian, kita
selalu punya pilihan untuk mensyukuri seluruh hal yang telah kita dapatkan.
Amiin.
berikut ada tulisan yang telah dimuat di InilahKoran
edisi Minggu 8 Januari, BY HERY WIBOWO (DOSEN ILMU KESEJAHTERAAN UNPAD
Tuesday, January 10, 2012
Person and Behaviour

assalamualaikum
actually this post is the
one another task in my lecture, like last time i just wanna share about
it, and perhaps somebody have interested in children and social work then
can use it as reference......
seperti biasa di awal penulis menjelaskan sedikit apa substansi
dari articel ini, articel ini adalah hasil dari praktikum penulis dalam mata
kuliah human behaviour and social envirotment, dimana penulis melakukan
analisis seorang client. pada analissis ini ditunjukan untuk melihat sejauh
mana lingkungan sekitar client dapat mempengaruhi perilaku client.
Gambaran
Singkat Client
Client adalah seorang anak perempuan yang berumur 10 tahun, ia
lahir di Garut padan 2 Mei 2001. Dan bersekolah di SDN Kanaga kelas V. Karena
kondisi perekonomian keluarga yang sulit, Sejak tagal 2 Juli 2011 ia masuk
panti asuhan Riajadul janah. Sebelum di panti ia bertempat tinggal di kampung
Baros tongoh Garut. Client adalah anak yatim, sejak kecil ia telah ditinggalkan
oleh ayahnya menghadap Allah SWT, sejak itu ia hanya tinggal bersama Ibu dan 3
Saudaranya. Dari pengamatan dan interview yang dilakukan penulis client adalah
anak yang termasuk aktip, dikarenakan ia pernah bercerita bahwa ia adalah juara
Bulutangkis tingkat Kabupaten dan bercita-cita menjadi atlet Badminton. Selain
itu client adalah anak yang memiliki cukup kemampuan berpidato dan
berpantun.
Dari data yang didapt
penulis client secara umum tidaklah memiliki masalah yang serious, selayaknya
nak yang berumur 10 tahun dan harus tinggal di panti asuhan dan jauh dari orang
tua. Tentunya clinet kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua, walupun di
panti ada pengasuh. Tapi bila dilihat lagi di dalam panto hanya terdapat 4
pengasuh danharus mengasuh 30 anak. Hal ini sungguh tidak akan effectif.
Maka penulis berasumsi
secara social client tidak memilki masalah dengan lingkunganya, serta client
juga anak yang memiliki kemapuan lebih dalam bidang badmintoon. Jadi, penulis
memberikan saran bahwa bila client dapat diberi bimbingan dan kehangatanyang
baik bukan tidak mungkin bakat yang clint miliki bisa ia wujudkan di massa
depan. Seperti cita-citanya menjadi atlet badminton.
Envirotment
1. Physical
Envirotment
Sekarang client bertempat
tinggal di panti asuhan Riajadul Jannah, tempatnya ia masuk pada tanggal 2 juli
2011, panti asuhan Riajadul Jannah sendiri berada di daerah Sayang
Jatinagor. Dari pengamatan penulis lingkungan panti yang bernuasa islami serta
memilik fasilitas yang cukup menunjang bermanfaat bagi aktivitas client serta
anak-anak panti. Dilingkungan panti sendiri terdapat musolah, ruang bermain,
ruang santai, dan perpustakaan bagi anak panti. Daerah panti
sendiri yang strategis yang tidak terlalu jauh dari pusat pemukiman warga,
memberikan dampak positp bagi client dan anak-anak panti yang lain. Di dekat
panti asuhan juga terdapat lapangan voli dan kebun serta tidak jauh
dari sekolah SDN Kanaga.
2. Culture
Client adalah anak yang
berasal dari keluarga yang berkebudayaan sunda, almarhum ayah client adalah
orang cikajang sedangkan ibunda client adalah dari Baros Garut. Dalam
keseharian client juga memakai bahasa sunda. Pengamatan yang dialkukan penulis
relevan dengan kebudayan client yaitu sunda yang cenderung bersikapp lembut dan
ramah.
3. Social
Intitutional And Social Structure
Dari data yang didapat
selama proses obervasi dan interview, cleint adalah nak yang dalam megeyam
pendidikan formal di sekolah adalah anak yang biasa-biasa saja, tetapi client
memiliki kecenderungan memiliki kemampuan lebih di bidang extrakulikuler.
Seperti olaraga badminton, berpidato, berpantun. Dari pengamtan penulis tentang
aktivitas keseharin client di panti.
Client merupakan anak
yang tidak banyak membuat masalah, ia cenderung baik. Serta ia memiliki
teman-teman akrab di dalam panti. Client adalah anak yang beragama islam dan
keseharaianpun ia terbiasa mengunakan jilbab. Dari pendapat client selama
tinggal di panti yang lebih kurang sekitar 5-6 bulan. Client mengatkan ia
merasa nyaman dan kerasan di panti. Walaupun kadang ia merasa rindu dengan ibu
dan saudaranya di garut.
4. Dyads
Client adalah anak yang
dekat dengan ibunya, dikarenakan sejak kecil ia selalu bersama dan sering
membantu ibunya. Dari hasil pengamatan penulis client memiliki teman dekat yang
bernama Keke, dan rupanya keke adalah saudara sepupu client yang tinggal bersama
di panti asuhan Riajadul Jannah.
5. Families
Hasil interview yang
penulis lakukan berhasil mendapatkan latarbelakang keluarga client.
Almarhum Ayah client bernama Hoer Efendi, yang berasal dari Cikajang,
sedangkan Ibu client bernama Hotim Fatimah, yang berasal dari Baros Garut.
Keluargaini memiliki 4 anak yaitu: anak pertama adalah Herlina yang sekarang
bersekolah di SMA Jatinagor, yang kedua client, ketiga adalah Terhadiana, dan
terakhir M. Akbar yang tinggal di garut.
6. Small
Group
Hasil pengamtan penulis
client memiliki Small Group atau bisa dikatakan teman bermain. Client memiliki
3 teman bermain di Panti asuhan. Dan mereka merupakn anak-anak yang sebaya
dengan client. Di sore hari biasanya mereka bermain di halaman depan panti.
Serta mereka bersekolah di tempat yang sama di SDN Kanaga.
7. Formal
Organization
Dari informasi yang
penulis dapatkan client tidak secara aktip da;am berkontribusi dan mengurusi
formal organization. Dikarenakan client hanyalah anak yang baru berumur 10
tahun dan ia masih beraktivitas dengan teman sebaya dan llingkungan panti saja.
8. Communities
Penulis beraggapan dari
data yang didapat, client hanya berkumpul dan beraltivitas hanya di lingkungan
panti asuhan Riajadul Jannah. Dan ia hanya bercomunitas dengan teman sebaya dan
beraktivas secara islami yang ditanamkan di setiap anak –anak panti.
9. Social
Movement
Dari data yang didapat
client adalah anak yang tidak memliliki hamabtan dalam berinteraksi dan berkontribusi
dengan lingkungan sosialnya. Client dahulu adalah anak yang tinggal di Garut,
dan pada 2 juli 2011 ia dikirim oleh ibunya untuk masuk kepanti asuhan Riajadul
Jannah.
Dari hasil interview
penulis dengan penjaga di panti. Pada awal client berada di panti, memang ia
cenderung kakau dikarenkanan ia masih beradaptasi di lingkunganyang baru, tapi
lambat laun ia mulai bisa bersosialisasi dan turut aktip dalam panti. Tidak ada
halangan yang berarti di dalam panti, dikarenakan suasana isalami dan kekeluargaan
di dalam panti memberikan rasa aman dan nyaman kepada client.
Time
1. Life
Course
Clinet adalah anak yang
berumur 10 tahun, ia berasal dari keluarga yang boleh dikatakankan serba
kekurangan, client juga harus bersabar saat ayahanda client menghadap Allah AWT
pada saat ia masih kecil. Jadilah clinet hidup bersama ibunya dan 3 saudaranya.
Dikarenkana kesulitan ekonomi yang melilit, ibunda client mengirim kakak korban
yang bernama Herlina untuk bertempat tinggal di panti asuhan Riajadul Jannah,
kemudian tepat pada tanggal 2 juli 2011.
Ibunda client mengirim
client ikut kakaknya dan sepupunya yanitu keke tinggal di panti. Hari-hari awal
client tinggal di panti terasa berat. Menurut sumber yang didapat, pada
awal-awal kedatangan client di panti, client hanya diam dan berbicara seperlunya.
Tapi lambat laun ia bisa berkomunikasi dan beradaptasi denganlingkungan panti.
Clinet adalah anak yang memiliki kempuan lebih dalam bidang olaraga Badminton,
clinet bercerita kepada penulis ia mengatakan waktu masih tinggal di Garut ia
adalah juara 1 Badminton tingkat Kabupaten, dan sering mengikuti kompetis
badminton tingkat desa. Client juga pandai dalam berpidato dan berpantun,
client bercerita sering ia di suruh oleh sekolah untuk berpidato dan berpantun
dalam kegiatan sekolah.
2. Life
Event
Client keseharian
mengeyam pendidikan di sekolah SDN Kanaga. Ia juga berpartisipasi aktip dalam
kegitan rutin di panti seperti sholat 5 waktu berjamaah dan mengikuti undangan
kegitan yang di alamatkan ke panti.
Di pagi hari client
bersekolah dan pada siang hari ia pulang dan beristirahat, dan bila ada tugas
piket ia kan melakukannya terlebih dahulu, kemudian di sore hari setelah sholat
asar, client dan teman-temannya bisa bermain di halaman panti atau di area
kebun di depan panti atau menonton tv di raung santai panti. Di malam hari
setelah sholat magrib dan isa, client melanjtukan makan malam dan kadang-kadang
belajar ataupun menonton tv.
3. Constan
Trends Cycle Shift
Dari data yang
didapat penulis, client dalama keseharian adalah anak yang baik dan tidak ada
masalah dengan teman ataupun lingkungannya. Seperti halnnya nak yang berusia 10
tahun, ia masih perlu bimbingan dan kasih sayang serta waktu khusus untuk client
mengaktualisasikan dirinya
. Dari hasil interview
client memang bukanlah siswa yang unggul di bangku sekolah, melaikan biasa
saja. Ia sering melatih dan bermain bulutangkis dengan teman-teman panti di
waktu sore hari, dari kecil client bercita-cita ingin menjadi atlet badminton.
Selayaknya panti asuhan yang berlatar belakang islam, sudah tentu panti
memberikan nilai, norma, dan pendidikan sesuai dengan ajaran islam. Client
dalam keseharianya bernuaansa islami, seperti client memakai jilbab, sholat 5
waktu, mengaji dll.
Conclusion
Dari hasil pengumpulan
data penulis berasumsi person and envirotment client dapat di lihat mengunakan
the Psychodinamic perpective.Karena client bisa seperti sekrang merupakan hasil
dari pengalaman client pada dahulu kala.
CHILD SAFE GUARDING AND PROMOTING WELFARE
assalamualaikum
actually this is the first posting i had in 2012, how about this content is, just share my task report in lecture. i thought this could be usefull for my friend and everyone have interested in children and social work. just share......
sebelum kita memulai dan melihat hasil dari laporan yang penulis buat, alangkah baiknya penulis menjelaskan sedikit tentang apa sebenarnya postingan ini. postingan ini adalah hasil praktikum mata kuliah children and social work, yang dimana penulis berkerja sebagai konselor di sebuah panti asuhan yang tidak jauh dari kampus UNPAD Jatinagor, dan sebenarnya pada articel ini hanya membahas laporan identifikasi atau bahasa kerennya assessment, motivasi dari postingan ini hanya berbagai kepada teman-teman yang tertarik dalam bidang micro dan spesipiknya pada children, sebagai bahan literature.
Gambaran
Singkat Client
Client adalah anak yang berusia 10 tahun dan lahir
di Bandung 1 juli 2001, bersekolah di SDN Kanaga kelas V . Client berasal dari
pasagan bapak Ujang dan ibu Titin. Karena keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, pada tanggal 1 juni 2011 client
dikirimkan ke panti asuhan Riajadul Jannah.
Nama : xxxxxxxxxxxxx
Alamat : Desa lamajang Kec.
Pangalengan Bandung
Tempat/Tgl Lahir : Bandung 1 juli 2001
Hobi : Bermain (lompat tali, hula hup), Membaca
Cita-Cita : Dokter
Ayah : Ujang
Pekerjaan : Buruh
Ibu : Titin
Pekerjaan : IRT
Saudara : 1. Wina (menikah, tinggal di
Cilenyi)
2. Kikin (sekolah pesanteren di
Jakarta)
3. Dede (sekolah SMP di Garut)
4. Bena (umur 3 tahun)
Parenting
Capasity
1. Basic care
Dari
hasil pengamatan dan interview, dalam
pemenuhan kebutuhan dasar client dapat diketahui, client mendaptkan makan tiga
kali sehari (pagi, siang, malam). Serta lauk pauk yang tersedia adalah nasi,
sayur-sayuran, tahu, tempe, telur, daging dll. Client juga mengatakan
kadang-kadang pihak panti memeberikan susu kepada client dan anak panti yang
lain.
Pemenuhan
kebutuhan sekolah, menurut sumber yang dapat dipercaya. Pihak panti memberikan
fasilitas perlengkapan sekolah seperti baju, alat tulis, buku, dll. Pihak
pantipun memberikan uang ongkos kesekolah kepada client sebesar Rp.
1.000-/perhari setiap anak di panti.
Menurut
client dalam satu kamar terdiri dari 3-2 orang anak, dan satu kamar dengan
client adalah teman sebayanya yaitu devi dan dian. Pengakuan client juga
mengatakan ia biasanya melakukan kegiatan belajar selesai sholat isa.
2. Ensuring Capasity
Menurut
pengakuan pak Ido sebagai salah satu
pengasuh di pandi, pihak panti selalu memberikan dan langsung mengurus. Bila
dimana ada anak panti yang sakit atau bermasalah di sekolah. Pak Ido juga
menambahkan bahwa biasanya bila terdapat anak-anak panti yang tidak sehat akan
langsung dibawa kerumah sakit ataupun puskesmas. Menurut pak Ido selama ini
alhamdulilah anak-anak panti belum pernah mengalami sakit yang berat, paling
barter demam, flu, dan batuk.
Pak
Ido juga menegaskan bahwa pihak panti juga bekerja sama dan saling memonitor
perkembangan anak di sekolah, ia mengatkan pihak panti dalam 1-2 bulan sekali
mengunjugi sekolah untuk mencari tahu perkembangan si anak.
Di panti sendiri terdapat empat orang pengasuh
pak Ido, Istri pak Ido, Teh Sari, dan Pak Tatang. Pengakuan dari client sendiri, ia mengatakn
tinggal di panti, ia cukup senang, dikarenakan ia bersama teman-teman dan
lingkungan islam di panti sendiri.
3. Emotional Warmth
Dari
hasil pengamatan penulis selama melakukan proses observasi. Kebutuhan emotional
warmth yang diberikan pihak panti memang ada seperti pemerian kebutuhan dasar,
pemberian bimbingan islam, dan penanaman nilai ahlak. Tapi hanya saja
dikarenakan jumlah anak di panti yang berjumlah 30 anak, sedangkan pihak
pengasuh hanya ada 4 orang. Hal tersebut sungguh tidak sebanding. Dan tentunya
pemberian emotional warmth tidak secara menyeluruh
Pak
ido juga mengatakan dalam mengurus anak-anak yang jumlahnya 30 anak, dirasa
sangat sulit untuk memperhatikan dan membimbing mereka satu persatu. Ia juga
mengatakan ia sering memberikan intruksi kepada anak-anak panti yang lebih
dewasa untuk bisa menjadi pembimbing dan memperhatikan adik-adiknya yang lebih
kecil.
Selian
itu teh sari juga mengatakan bahwa, kadang kala memang pemberian kehangatan dan
kasih sayang lebih baik dari orang tua kandung si anak, tapi pihak panti
berusaha sebiak mungkin memberikan jalan yang terbaik. Seperti memberikan kenyamanan
dan rasa kekeluargaan di dalam panti.
4. Stimulant
Dari
hasil interview, penulis mendapatkan info bahwa. Client dalam keseharian
mendapatkan stimulant dari panti, seperti mendapatkan bimbingan sekolah dari
para kakak-kakak yang ada di panti, biasanya client bila mendapatkan kesulitan
dalam menyelesaikan tugas dari sekolah, kakak-kakaknya melakukan bimbingan dan
menemani proses pengerjaan tugas tersebut.
Pak
ido juga mengatakan, pemerina stimulant khususnya di panti. Dilakukan dengan
sesuai ajaran islam. Anak-anak panti diajari bagaiman bertingkah laku,
berbicara, bertindak sesuai dengan kaidah ajaran islam. Anak panti diajarkan
nilai, norma dan aklak yang baik. Setipa ank wajib melakukan sholat 5 waktu,
berpuasa, dll.
5. Guidance And Boundaries
Menurut
pak ido dan teh sari, pihak panti memberikan bimbingan kepada client dan
anak-anak panti berlafaskan islam. Mereka di berikan pembelajaran dan pemahaman
keislaman, dan tentunya hal-hal yang melangar dijauhkan dari anak-anak panti.
Pak
ido juga menambahkan, bahwa ia sering memerikan masukan dan perintah kepada
anak-anak panti yang lebih tua ajar mengajari dan membimbing adek-adek mereka.
Pak ido juga mengatakn kakak-kakak yang ada di panti menjadi panutan bagi
adeknya.
6. Stability
Menurut
penulis berdasarkan hasil interview, client dalam keseharian di panti turut
aktip dalam kegitan panti. Menurut teh sari, client adalah nak yang baik sejak
pertam masuk panti, ia tidak menunjukan permasalahan dan anaknya baik, client
di anggap teh sari adalah anak yang rajin.
Di
panti sendiri terdapat menurut pak ido, anak- anak secara rutin diberikan
pemenuhan kebutuhannya. Pak ido juga mengatakan untuk proses dana dalam
membiayai panti, selama ini tidak terjadi masalah. Alhamdulilah dana yang ada
cukup dan dapat memberikan pemenuhan kebutuhan anak-anak panti.
Child
Development Needs
1. Health
Dari
hasil pengakuan client, ia mengatakn ia memiliki penyakit maag, tetapi hal
tersebut terjadi bila ia telat makan, dan client juga mengatakan bahwa pernah
ia di bawah ke puskesmas karena penyakit maag.dan alhamdulilah ia mengatakn
bahwa sekarang ia sehat saja selam di panti.
Pak
ido juga mengatakan bahwa client selam tinggal di panti tidak megalami sakit yang
berat. Paling masuk angin dan batuk pak ido megatakan lagi. Tentuny apak ido
mengatakan bahwa bila ada ada yang sakit di panti pihak panti pasti langsung
membawa anak tersebut ke puskesmas atau ke dokter.
2. Education
Menurut
pak ido kebutuhan akan pendididkan setipa anak panti, akan dibiayai oleh panti
sampai si anak lulus kuliah. Pak ido juga mengatakan pemenuhan kebutuhan
pendidikan client sama seprti anak-anak lainya, tidak ada diskriminasi semua
anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik
Penulis
juga mendapatkan data dari client sendiri bahwa, client sangat menyukai mata
pelajaran matematika dan ia kurang begitu mengerti pelajran bahasa inggris dan
IPS.client juga bercerita selama disekolah SDN Kanaga, ia tidak pernah
mendaptkan masalah ataupun membuat masalah.
3. Emotional Behavior Development
Dari
hasil interview pak ido dan teh sari, penulis mengetahui bahwa client adalah
anak yang baik, selama tinggal di panti, client selau turut berkontribusi dan
ia juga ragin mengerjakan piket rutin.
Dalam
keseharian dari pengamatan penulis, client adalah anak yang periang, karena ia
selalu bermain bersama-teman-temanya di saat penulis bekeunjung ke panti. Dari
tutur dan sikpa client adalah anak yang baik. Dari pengakuan teman sebayanya
juga megatakan client adalah anak yang selalu membantu teman dan bersikpa baik
sesama.
Penulis
juga bisa memaklumi bila client orangnya pemalu bial diajak interview,
dikarenakan anak seumuran client memang masih tumbuh dan berkembang.
4. Identity
Client
adalah anak yang berasal dari keluarga yang berkebudayaan sunda, dan tentunya
dalam bersikap dan bertutur kata, ia sopan dan lembut, khas orang sunda. Client
menganut ajaran islam, serta ia juga mengunakan jilbab dalam kesehariannya.
Client
juga fasih berbasa sunda dan berbasaha indonesia ia juga cukup lancar.menurut
sumber yang dapat dipercaya. Client adalah anak yang rajin dan mengerti
kebersihan. Client adalah anak yang suka akan kerapian. Ia mandi, merapikan
temapt tidur, dan piket rutin.
Client
juga bercita-cita kelak inginmenjadi dokter, dikarenakan ia ingin menolong
orang-orang yang sakit.meliaht dari penampilan keseharian client penulis
beragapan memang klien adalah anak yang rapi dan baik.
5. Family And Social Relation
Client
adalah anak dari pasaangan bapak ujang dan ibu titin, kelaurga ini tinggal di
pengalengan bandung. Bapak client hanyalah seorang buruh dan ibu client adalah
ibu rumah tangga biasa. Client memilki 4 saudara. Memang dikarenakan kesulitan
dalam perekonomian client dikirimkan ke panti.
Sebelum
client tinggal dipanti, kakak client yang lebih besar telah tinggal di panti
riajadul jannah. Dan menurut client sendiri ia adlah saudara sepupu dengan
temannya dian. Dikarenakan ibu client menikah lagi dengan pamannya si dian.
Bapak kandung dian tidak tahu lagi kabarnya. Semenjak client kecil sudah
ditinggalkan.
6. Social Present
Dari
hasil pengamatan penulis bisa digamabarkan, client adalah anak perempuan yang
berusia 10 tahun, yang berkulit sawo matang, mengenakan jilbab dalam
kesehariannya. Client dalam bertingkah laku dan berucap dengan baik dikarenakan
ia berasal dari kebudayaan sunda.
Dari
keseharian sendiri client turut aktip dalam kegitan panti, seprti shol;at,
nagaji dll. Serta client juga mengatakan bahwa ia suka mengikuti kegiatan
sekolah seprti olaraga voli dan bernyayi.
Dari
pendapat pak ido tentang perkembangan client selama tinggal di panti, ia
mengatakan tidak ada hal yang salah, client tumbuh dan berkembang dengan baik.
7. Welfare Skill
Dari
hasil interview dengan client, ia mengatakan bahwa sangat suka bernyayi tapi
hanya saja ia belum memiliki keberanian untuk tambil di khalayak banyak. Client
juga suka bermain lompat tali dan hula hop, kegitan itulah yang sering
dilakukan di sore hari.Client
juga mengakui bahwa ia tertarik denganmata pelajarn matematika dan kurang
begitu paham dengan mata pelajaran bahasa inggris. Menurut penulis secara umum
tumbuh kembang client terlibaht baik dan tidak ada hamabtan, dan interaksi
client dengan lingkungan terjadi dengan lancar. Sedangkan bila ditinjau dari
aspek mental, client sama sepreti anak-anak yang sebaya dengannya. Menurut
teh sari juga, client adalah oanak yang mandiri, ia terbiasa dalam menyusun,
merapaikan dan meangatur dirinya sendiri. Lanjut kata teh sari client juga
terbiasa melakukan sesuatu tanpa harus disuruh.
Family
And Envirotment Factor
1. Community Resources
Dari
hasil pengamatan penulis untuk keadan panti sendiri, penulis rasa cukup, panti
memiliki ruang bermaian, ruaang santai, perpustakaan, mesjid, arena permaianan.
Serta memiliki fasilitas olaraga seperti meja ping pong dan bola.
Panti
riajadul jannah terletak di daerah sayang, dan berdektan denga pemukimana
masyarakat. Di dekat panti terdapat SD dan di depan bagunan panti terdapat
tanah lapang dan kebun. Lingkungan panti yang jauh dari hiruk pikuk modernisasi
jatinaor, memberikan ketenangan dan damai anak-anak panti.
Clinet
memilki teman bermian di panti, ia adalah teman sekamar dari client. Tapi
secara umum client bermain dan berinteraksi dengan semua oran gyang ada di
panti. Client dalam mengisi waktu sore hari biasanya mealukana aktivitas
bermain seperti lompat tali, hula hop, dan bermain bola.
2. Family Social Integration
Dari
hasil pengamatan penulis, keberadan panti yang dekat dengan pemukiman warga,
serta berdekatan denga universitas. Memberikan dampak positip bagi panti itu
sendiri. Serin gkali pihak universitas berkunjung ke panti atau mengundang
anak-anak panti dalam acara kampus.
Sudah
sejak lama para mahasiswa unpad sering bekerja sama dengan panti, peihak
mahasiswa melakukan praktek disana dan secara tidak langsnung dapat memberikan
pengaruh positp kepada anak –anak panti.
Panti
riajdul jannah sendiri telah banyak dikenal oleh banyak di skeitar jatinagor.
Diakrenkan panti ini dahuluny apendirinya adalah profesor dari unpad. Secara
umum lingkungan sekitar panti asuhan baik dan tidak terjadi hal-hal yang bisa
mengancam ataupun mengangu panti itu sendiri.
3. Income
Dari
hasil interview dari pak ido, ia mengatakan bahwa pendanaan dalam menjalankan
panti berasak dari donatur, dari pemerintah, hibah, sedekah. Unutk rincian dana
tersbut pak ido tidak dapt menjelaskan.Ia juga bersukur selama ini tidak ada
masalah dalam pendanaan.
4. Employment
Dari
penjelasan pak ido, tentang pendanan. Ia mengatakan untuk besaran dan
penglaokasian dana itu pak tatang yang mengurus dan tidak etis kalau
dibicarakan.
5. Housing
Dari
hasil pengamatan penulis keadaan panti secara umum cukup menunjang dan memiliki
fasilitas. Seperti mesjid, ruang makan, toilet, raung tamu, ruang bermain,
ruang belajar, dll.
Di
panti riajadul jannah sendiri terdapat 30 anak, 20 anak perempuan dan 10 anak
laki-laki. Setiap anak menempati kamr dan dalam satu kamr biasanya terisi 3
sampai 2 anak. Pengamatan penulis meliaht keadan kamar di panti, cukup baik,
terdapat ranjang yang bertingkat dan ada yang tidak bertingkat. Fentilasi
setipa kamar jauga baik. Dan setipa kamr disediakan meja belajar dan lemari
pakaian. Bila dlihat ukuran kamar, penulis rasa diras cukup untuk anak –anak
yang berusia 8-20 tahun.
Di
panti terdapat 4 pengasuh, tapi secara umum anak panti yang telah dewasa
diharpakan dapat membimbing adik-adiknya.
6. Wider Family
Dari
hasil wawancara kepada pak ido dan teh sari serta pak tatang, selama ini secara
umum, anak panti tidak mengalami onflik berkepanjangan. Memang dikaui kadang
ada perkelahiankecil antara anak-anak. Dan hal itu iasa karena anak-anak masih
memilki ego dan aktip.
Pak
ido juga mengatakan bahwa jumlah anak dan bangunan panti sendiri sudah cukup
menampung. Secara khusus anak panti satu sama lain adalah bagaikan satu
keluarga.
7. Family Housing And Fungctioning
Dari
data yang di dapat, client adalah anak yang berasal dari keluarga yang memang
mengalami kekurangan. Ayahnya hanay seorang buruh dan sedangkan ibuny hanya ibu
rumah tangga biasa. Sejarahnya dahulu kaka client yang pertama tinggal di
panti, kemudian pada tanggal 1 juni 2011 client dikirim ke panti asuhan
dikarenakan kesulitan ekonomi.
Clinet
tinggal di panti kurang lebih 5-6 bulan, dari apa yang terjadi sekarang, client
sudah bisa beradapatasi dan berkontribusi di panti. Secara umum rasa
kekeluarggan yang ada di panti telah membuat client merasa kerasaan tinggal
disana.
Saturday, December 17, 2011
Seminar Nasional "Social Protection For Difabel"
assalamualaikum
proudly present !
Seminar Profesi Pekerjaan Sosial 2011 dengan tema "Social Protection For Difabel"
Seminar Profesi Pekerjaan Sosial 2011 dengan tema "Social Protection For Difabel"
(perlindungan sosial bagi penyandang cacat).
Hari : Selasa, 20 Desember 2011 &
Rabu, 21Desember 2011
Waktu : 08.00-16.00
Tempat : Gedung Graha Sanusi UNPAD
Tempat : Gedung Graha Sanusi UNPAD
Dipati Ukur, UNPAD Bandung
Keynote Speaker :
- Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat)
- Dada Rosada (Walikota Bandung)
Dengan pembicara :
- Ditjen ODK Kemensos
- Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos
- Nani Rosada (Ketua RBM)
- Ibu Sri (YPAC)
- Bapak Markus (Precious One)
- Soegeng (Pembuat seribu kaki palsu)
- Ibu Dwi Ariani (Handicap International)
- Bapak Yayat (Bengkel 19)
dimeriahkan oleh LISES UNPAD, DIsable+, Bengkel 19, Door prize, and many more..
HTM:
mahasiswa UNPAD Rp. 40.000 (2 hari seminar)
mahasiswa non UNPAD Rp. 45.000 ( 2 hari seminar )
umum Rp. 80.000 (2 hari seminar)
Untuk informasi lebih lanjut hub :
- Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat)
- Dada Rosada (Walikota Bandung)
Dengan pembicara :
- Ditjen ODK Kemensos
- Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos
- Nani Rosada (Ketua RBM)
- Ibu Sri (YPAC)
- Bapak Markus (Precious One)
- Soegeng (Pembuat seribu kaki palsu)
- Ibu Dwi Ariani (Handicap International)
- Bapak Yayat (Bengkel 19)
dimeriahkan oleh LISES UNPAD, DIsable+, Bengkel 19, Door prize, and many more..
HTM:
mahasiswa UNPAD Rp. 40.000 (2 hari seminar)
mahasiswa non UNPAD Rp. 45.000 ( 2 hari seminar )
umum Rp. 80.000 (2 hari seminar)
Untuk informasi lebih lanjut hub :
Lita 085782360000
Fika 087827732321
Subscribe to:
Posts (Atom)





