Showing posts with label social welfare. Show all posts
Showing posts with label social welfare. Show all posts

Thursday, May 31, 2012

Permanency Planning

Dalam Family and Child Social Work terdapat teori tentang rencana penetapan pengasuhan anak  yaitu Permanency Planning.

Saturday, January 21, 2012

Penyaluran Bakat Kaum Difabel

assalamualaikum
articel merupakan ringkasan articel yang diambil dari sebuah makalah, dan makalah tersebut tujuannya ditunjukan sebagai bahan referensi materi seminar yang bertemakan difabel. para penulisnya adalah Arrinda Almadea, Rindu Adzani T, Dimas Fattah, Zulfahmi Mulya, Dwi Astri M.P, FerdianaSandi, Anis Wardatul Jannah, Dhita Miranda, Eti Suryawati, Abil Vareszah. tiada motivasi khusus melatarbelakangi mempublish articel ini, hanya mencoba berbagai referensi kepada setiap orang yang concern kepada kaum difabel. semoga bermanfaat.


Dalam dunia internasional, istilah disability mengalami perubahan, antara lain: cripple, handicapped, impairement, yang kemudian lebih sering digunakan istilah people with disability atau disabled people. People with disability kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi penyandang cacat yang pada awalnya menggunakan istilah penderita cacat.

 Istilah penderita cacat sangat berkesan diskriminatif karena memandang seseorang memiliki salah satu jenis penyakit atau lebih yang mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Perubahan penggunaan istilah penderita cacat menjadi penyandang cacat mulai dikenalkan pada penetapan UU no. 4 th. 1997, yang menempatkan posisi penyandang cacat dengan cenderung menghaluskan istilah tersebut.

Istilah ini pada dasarnya masih digunakan secara luas di berbagai publikasi ataupun media massa, tetapi berbagai aktivis sosial berpendapat bahwa penggunaan istilah ini memiliki arti sempit yang masih tetap menempatkan seseorang dalam posisi yang tidak 'normal' dan tidak mampu karena kondisi kecacatan yang dimilikinya. Hingga akhirnya pada tahun 1997, penggunaan istilah difabel mulai dikenalkan kepada masyarakat secara luas.

Indonesia sebagai Negara yang memiliki keramah tamahan yang tinggi, seharusnya juga ramah terhadap perbedaan yang ada, khususnya terhadap kaum difabel. Istilah difabel merupakan pengindonesiaan dari kependekan istilah different abilities people  (orang dengan kemampuan yang berbeda).

Dengan istilah difabel, masyarakat diajak untuk merekonstruksi nilai-nilai sebelumnya, yang semula memandang kondisi cacat atau tidak normal sebagai kekurangan atau ketidakmampuan menjadi pemahaman terhadap difabel sebagai manusia dengan kondisi fisik berbeda yang mampu melakukan aktivitas dengan cara dan pencapaian yang berbeda pula.

 Dengan pemahaman baru itu masyarakat diharapkan tidak lagi memandang para difabel sebagai manusia yang hanya memiliki kekurangan dan ketidakmampuan.Sebaliknya, para difabel, sebagaimana layaknya manusia umumnya, juga memiliki potensi dan sikap positif terhadap lingkungannya.

Sebenarnya kaum difabel dapat mandiri dan berprestasi  jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mendukung. Sehingga semua jaminan atas akses fasilitas terhadap kaum difabel tidak hanya sebatas payung hukum. Tiba saatnya kaum difabel diakui  dan dijamin hak-haknya. Sebagaimana 30 tahun silam United Nations Declaration of the Rights of Disabled Persons (1975) menyatakan:

"Kelompok difabel memiliki hak yang bersifat melekat untuk dihormati martabatnya sebagai manusia."  Yang dibutuhkan bukanlah belas kasihan karena difabilitas dipandang sebagai "ketidaknormalan"  atau "kecacatan." Melainkan kesadaran menciptakan tatanan yang adil secara bersama-sama. Sebuah tatanan yang memberikan jaminan dan pemenuhan terhadap hak setiap warga negara, tanpa terkecuali.

Secara umum setiap manusia memilki kepribadaian dan personalitas yang unique, tidak terkecuali kaum difabel. Oleh karena itu kaum difabel pun membutuhkan sarana prasarana untuk mengaktualisasikan dirinya. Salah satunya adalah dengan cara menyalurkan bakatnya di bidang seni.

Penyandang Cacat Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial 

"Kesejahteraan Sosial adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial materiil maupun spirituil yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warganegara untuk mengadakan usha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila"

Rumusan diatas menggambarkan Kesejahteraan Sosial sebagai suatu keadaan di mana digambarkan secara ideal adalah suatu tatanan (tata kehidupan) yang meliputi kehidupan material maupun spiritual, dengan tidak menempatkan satu aspek lebih penting dari yang lainnya, tetapi lebih mencoba melihat pada upaya mendapatkan titik keseimbangan.

Titik keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan antra aspek jasmaniah dan rohaniah, ataupun keseimbangan antara aspek material dan spiritual. Penyandang cacat mempunyai peran yang sama dengan warga negara lainnyya dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Melihat undang-undang pemerintah No. 43 tahun 1998 meurpakan salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang cacat. Oleh karena itu peran pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan penyandang cacat.

 Pemerintah Daerah dengan kewenangannya akan terus mendorong berbagai kekuatan masyarakat baik perorangan, kelompok maupun Institusi supaya mengembangkan kepeduliannya. Jika selama ini kepeduliannya sebatas menyantuni, maka ke depan diperluas dengan kepedulian dibidang yang lain seperti: Pertama, turut aktif memasyarakatkan peraturan perundangan untuk penyandang cacat terutama bagi kelompokmasyarakat yang potensial.

 Dua, mendorong masyarakat pengusaha semakin terbuka untuk menerima tenaga kerja penyandang cacat. Indonesia sebagai Negara yang memiliki keramah tamahan yang tinggi, seharusnya juga ramah terhadap perbedaan yang ada, khususnya terhadap kaum difabel. Istilah difabel merupakan pengindonesiaan dari kependekan istilah different abilities people  (orang dengan kemampuan yang berbeda). 

Dengan istilah difabel, masyarakat diajak untuk merekonstruksi nilai-nilai sebelumnya, yang semula memandang kondisi cacat atau tidak normal sebagai kekurangan atau ketidakmampuan menjadi pemahaman terhadap difabel sebagai manusia dengan kondisi fisik berbeda yang mampu melakukan aktivitas dengan cara dan pencapaian yang berbeda pula.

 Dengan pemahaman baru itu masyarakat diharapkan tidak lagi memandang para difabel sebagai manusia yang hanya memiliki kekurangan dan ketidakmampuan.Sebaliknya, para difabel, sebagaimana layaknya manusia umumnya, juga memiliki potensi dan sikap positif terhadap lingkungannya.

Sebenarnya kaum difabel dapat mandiri dan berprestasi  jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mendukung. Sehingga semua jaminan atas akses fasilitas terhadap kaum difabel tidak hanya sebatas payung hukum. Tiba saatnya kaum difabel diakui  dan dijamin hak-haknya. Sebagaimana 30 tahun silam United Nations Declaration of the Rights of Disabled Persons (1975) menyatakan:

"Kelompok difabel memiliki hak yang bersifat melekat untuk dihormati martabatnya sebagai manusia."  Yang dibutuhkan bukanlah belas kasihan karena difabilitas dipandang sebagai "ketidaknormalan"  atau "kecacatan." Melainkan kesadaran menciptakan tatanan yang adil secara bersama-sama. Sebuah tatanan yang memberikan jaminan dan pemenuhan terhadap hak setiap warga negara, tanpa terkecuali.

Secara umum setiap manusia memilki kepribadaian dan personalitas yang unique, tidak terkecuali kaum difabel. Oleh karena itu kaum difabel pun membutuhkan sarana prasarana untuk mengaktualisasikan dirinya. Salah satunya adalah dengan cara menyalurkan bakatnya di bidang seni. 

Tiga, melakukan kegiatan pembinaan atau pelatihan, sehingga produktivitas kerja dan kredibilitas penyandang cacat semakin berkualitas. Empat, menjadi penghubung atau mediator bagi kepentingan penyandang cacat disatu pihak dan kepentingan diberbagai Institusi dilain pihak.

Dengan demikian, diharapkan perluasan peran tidak hanya pada unsur masyarakat, tetapi juga oleh instansi dan lembaga-lembaga pemerintah menurut kapasitas, kewenangan dan kemampuan yang dapat diperbuatnya untuk penyandang cacat.

Penyaluran Bakat Bidang Seni Bagi Kaum Difabel 

Di Indonesia sendiri kebanyakan penyaluran bakat bagi kaum difabel sudah masuk kedalam program rehabilitasi sosial. Tempat-tempat penyaluran bakat bagi kaum difabel seharusnya banyak didirikan oleh pemerintah untuk menampung bakat mereka, sehingga kehidupan mereka tidak terlantar dan bergantung banyak kepada orang sekitarnya. Boleh dibilang tempat penyaluran bakat yang khusus untuk menyalurkan bakat bagi kaum difabel di Indonesia masih dibilang jarang.

Hal itu terbukti masih banyaknya kaum difabel yang susah menyalurkan dan mengembangkan bakat potensial yang ada di dalam diri mereka. Biasanya tempat-tempat yang dapat menampung mereka kebanyakan dari pihak swasta atau LSM.

Salah satu tempat yang bisa menjadi ajang tempat penyaluran bakat bagi kaum difabel adalah HIPSDI (Himpunan Pelaku Seni Diferensia Indonesia). Perkumpulan ini dibentuk untuk menampung potensi dan mengembangkan bakat dibidang seni orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik. Kata diferensia dipilih untuk mengantikan kata cacat yang bermakna negatif.

Kata cacat dianggap tidak layak lagi digunakan untuk manusia. Selain itu, tidak selamanya penyandang kekurangan fisik juga kalah dalam berkarya. Dalam deklarasi ini pencinta seni diferensia menolak diperlakukan diskriminatif Sebagai kreasi pertama HIPSDI, sejumlah anggota akan mengikuti festival penyandang cacat di Beijing, Cina pada pertengahan bulan ini.

Pada umumnya para kaum difabel yang mempunyai bakat terpendam di bidang seni diberikan motivasi dan pendekatan secara psikologis, setelah dirinya merasa sudah memiliki rasa percaya diri barulah potensi yang ada dalam diri mereka dikembangkan. Dari situlah bakat yang tadinya hanya sebatas keinginan mereka dan impian mereka saja bisa dikembangkan sampai si penyandang cacat tersebut sudah bisa dan mampu menyalurkan bakatnya dengan percaya diri. Tidak sedikit hasil karya mereka membuat orang normal seperti kita merasa kagum dan tidak percaya.

 Dalam pemberian motivasi agar para penyandang cacat tersebut tidak jenuh dan semangat, biasanya diselingi dengan permainan-permainan yang membuat spontanitas mereka keluar. Pemberian motivasi biasanya dilakukan secara berkelanjutan dan bertahap, agar mereka tidak kaget jika diberikan dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat. Disini dukungan dan peran keluarga sangatlah penting dalam pengembangan dan penyaluran bakat bagi para penyandang cacat.

Biasanya para penyandang cacat bisa lebih terbuka dan mau mendengarkan pengalaman atau nasihat-nasihat yang baik dari sesama penyandang cacat juga. Hal itu disebabkan oleh pola pikir mereka yang merasa senasib sependeritaan dengan keadaan yang mereka alami, dan itu terbukti efektif dalam membantu penyandang cacat menghadapi keterbatasannya.

Monday, January 16, 2012

Peksos penolong diri sendiri dan juga orang lain. by Hery

assalamualaikum
harus diakui menjadi suatu kebanggan dan penghormatan bagi penulis dapat mencantumkan tulisan Bapak Hery Wibowo. sebagai seorang akedemisi (Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial) dan praktisi pekerja sosial.  beliau memang sering menuangkan opini dan ide-ide creativesnya pada suatu tulisan. pada kesempatan ini,  penulis berkesempatan menaruh tulisan beliau di blog penulis.


sebenarnya tulisan bapak Hery Wibowo telah dimuat di InilahKoran edisi Minggu 8 Januari.  penulis sendiri tidak memilki motivasi khusus mengapa mengutip/menaruh  tulisan beliau di blog penulis, hanya saja, penulis rasa tulisan yang di buat beliau sangat informatif dan bermanfaat. tentunya,  tulisan yang baik ini haruslah di publishkan secara luas. agar nantinya tulisan ini dapat bermanfaat bagi orang banyak.ha ha

dan tidak perlu berlam-lama dibawah ini adalah tulisan beliau:

Komunikasi Apresiatif
Tanpa terasa, saat ini kita sudah memasuki tahun 2012. Tanpa terasa pula 360an hari telah berlalu dari januari 2011.Sungguh, perjalanan waktu sering berjalan tanpa disadari. Rasanya baru bangun pagi tahu-tahu sudah sore. Rasanya baru hari Senin, tahu-tahu sudah Sabtu dan seterusnya.

Awal tahun, awal periode atau awal musim, seringkali dijadikan sebagai titik berangkat untuk sesuatu yang baru. Pada saat-saat inilah biasanya individu mulai mengevaluasi hasil kerjanya di periode lalu dan merencanakan aktivitas untuk periode berikutnya. Bagi beberapa orang momen pergantian waktu adalah saat-saat yang mendebarkan, karena akan menentukan pola aktivitasnya, apakah akan berlanjut atau tidak. Bagi para pimpinan, momen ini juga merupakan hal yang cukup menantang, karena mereka harus membuat keputusan terkait kinerja yang telah dicapai, apakah akan melanjutkan, menghentikan, menambah, mengurangi dan sebagainya.

Anyway, secara umum, inilah saat dimana setiap kita perlu melakukan kontenplasi dan introspeksi terkait tingkah laku dan kinerja kita sendiri, karena kita akan melanjutkan perjalanan kehidupan kita. Namun demikian, satu hal yang perlu disadari bersama adalah bahwa pergantian waktu tidak harus diidentikkan dengan pergantian tahun. Seyogianya, momen pergantian hari juga merupakan saat yang tepat untuk melakukan introspeksi, yaitu 'apakah hari ini kita sudah lebih baik dari hari kemarin, atau sebaliknya lebih buruk'. Maka, biasanya inilah momen-momen yang penuh kegembiraan dan harapan. Inilah saat-saat dimana hari-hari kita penuh dengan motivasi, penuh dengan imajinasi akan kesuksesan yang dibayangkan akan diraih, dan penuh dengan asa untuk keberhasilan yang lebih besar.

Sayangnya, selain beberapa kondisi dimuka, terdapat hal-hal yang berpotensi membuat momen pergantian waktu menjadi saat-saat yang tidak menyenangkan. Karena sering kali momen ini dijadika momen untuk
1. Mencari kambing hitam atas kebelumtercapaian target
2. Mencari pihak yang paling disalahkan atas kebelumserpunaan pencapaian yang ditargetkan
3. Menebar teror kepada semua pihak terkait kebelumberhasilan aktivitas yang ditentukan sebelumnya.

Oleh karena itu, tidak semua pihak merasa gembira dan ceria menyambut momen pergantian waktu. Maka, agar momen pergantian waktu tidak menjadi hal yang menyeramkan dan menimbulkan kecemasan, perlu dipikirkan strategi baru yang memungkinkan kita dapat mengapresi hasil yang telah dicapai, alih-alih sekedar  mencari kesalahan. Perlu diusahakan mendapatkan cara baru yang memungkinkan kita untuk mengukur pencapaian yang telah didapat, alih-alih sekedar mencari kekurangan dan kelemahan.

Berpikir Apresiatif
Berdasarkan uraian dimuka, maka diperlukan perubahan pola pikir untuk membuat suasana jauh lebih ceria dan jauh lebih memotivasi. Diana Withney dan Amanda Trosten dalam buku Apreciative Inquiry mengajarkan kita sesuatu yang menarik, yatiu tentang berpikir apresiatif. Berpikir apresiatif menurut mereka bukan berarti menafikkan apa yang negatif.. Bukan membutakan diri terhadap kelemahan. Bukan tidak mengakui kekurangan. Setiap orang pasti pernah salah. Bahkan setiap Negara pasti pernah mengalami kegagalan. Maka berpikir apresiatif adalah upaya menghargai apa yang ada pada diri kita, mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita lalui. Melalui berpikir apresiatif kita diajak untuk lebih fokus pada apa yang terbaik dari manusia dan sistem manusia, dan apa yang memberi nafas pada kehidupan.

Komunikasi Apresiatif
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara kita berpikir apresiatif? Bagaimana cara kita mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari? Salah satunya adalah dengan mulai mengubah cara kita berkomunikasi, tanpa kita sadari cara kita berkomunikasi mencerminkan bagaimana kita berpikir terhadap sesuatu. Sebagai contoh, ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang tidak kita senangi atau tidak diharapkan, kita cenderung untuk langsung mencari kesalahan atau berusaha menemukan biang-keroknya.

Selanjutnya bahasa atau pernyataan yang muncul, cenderung diawali oleh kata 'why' (mengapa) seperti contoh-contoh berikut ini:
1.  "Mengapa target tahun ini tidak tercapai?
2.  "Mengapa masih banyak pekerjaan yang belum selesai?"
3. "Mengapa ruangan ini selalu berantakan?"
4. "Mengapa setiap saya menggunakan telepon, pasti sedang digunakan?"
5. "Mengapa pencapaian kita tahun ini jauh dibawah tahun lalu?"
6. "Mengapa masih banyak yang melakukan kesalahan, padahal kita sudah sering sekali membahas masalah ini?"

Jika kita perhatikan, ada beberapa hal yang muncul ketika pertanyaan 'why' dikemukan:
1. Cenderung berorientasi masa lalu
2. Cenderung mencari siapa/dimana sumber kesalahan (kambing hitam).
3. Cenderung tidak menghargai hasil yang telah dicapai,
Maka, secara umum dapat dikatakan bahwa pertanyaan 'why' cenderung kurang membuat semangat dan bahkan dapat menurunkan antusiasme.

Appreciative thinking, mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal yang telah dicapai. Berpikir apresiatif, juga mengajak kita untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki dan tidak terlalu memusingkan hal-hal yang belum dalam genggaman. Oleh karena itu, praktik berpikir apresiatif yang dapat kita lakukan salah satunya adalah dengan mengganti pertanyaan 'why' tersebut dengan pertanyaan 'what', seperti:
1. "Baik, kita sudah tau kondisi kita, lalu apa lagi ya, yang bisa ditingkatkan?
2. "Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk memperbaiki yang ada, apa alternatif lainnya?"
3. "Apa ada usulan solusi lain? "
4. "Apa ada yang punya pendapat untuk meningkatkan hasil yang telah kita raih?" dll

Berdasarkan beberapa contoh pertanyaan dimuka, tampak bahwa pertanyaan 'what' cenderung:
1.  Fokus ke masa depan (tidak terlalu mempermasalahkan masa lalu)
2. Tidak menyalahkan atas apa yang belum dicapai
3. Mencari solusi dari kondisi yang ada

Tentunya, pergantian jenis pertanyaan dimuka cenderung kontekstual dan kondisional. Namun demikian, pada sebagian besar situasi, kita dapat mulai berpikir untuk memilih pertanyaan yang tepat untuk menghasilkan efek psikologis yang tepat.

Pertanyaan 'what' dalam hal ini, cenderung berfokus pada solusi dan berorientasi pada masa depan, sehingga dapat mendorong antusiasme. Walaupun tidak mengubah masalah, namun paling tidak dapat mendorong cara pandang baru terhadap bagaimana kita melihat masalah.

Akhir kata, kepada seluruh keluarga besar PEKSOS, semoga dapat mencapai harapan yang dicita-citakan. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan keluh kesah, dan terlalu berharga untuk diisi dengan pikiran negatif. Maka, mari menjadi pribadi yang lebih baik dengan selalu berpikir bahwa kita tidak mungkin mendapatkan seluruh yang kita inginkan, namun demikian, kita selalu punya pilihan untuk mensyukuri seluruh hal yang telah kita dapatkan. Amiin.

berikut ada tulisan  yang telah dimuat di InilahKoran edisi Minggu 8 Januari, BY HERY WIBOWO (DOSEN ILMU KESEJAHTERAAN UNPAD

Tuesday, January 10, 2012

Person and Behaviour


assalamualaikum
actually this post is the one another task in  my lecture, like last time i just wanna share about it, and perhaps somebody have interested in  children and social work then can use it as reference......



seperti biasa di awal penulis menjelaskan sedikit apa substansi dari articel ini, articel ini adalah hasil dari praktikum penulis dalam mata kuliah human behaviour and social envirotment, dimana penulis melakukan analisis seorang client. pada analissis ini ditunjukan untuk melihat sejauh mana lingkungan sekitar client dapat mempengaruhi perilaku client.

Gambaran Singkat Client

Client adalah seorang anak perempuan yang berumur 10 tahun, ia lahir di Garut padan 2 Mei 2001. Dan bersekolah di SDN Kanaga kelas V. Karena kondisi perekonomian keluarga yang sulit, Sejak tagal 2 Juli 2011 ia masuk panti asuhan Riajadul janah. Sebelum di panti ia bertempat tinggal di kampung Baros tongoh Garut. Client adalah anak yatim, sejak kecil ia telah ditinggalkan oleh ayahnya menghadap Allah SWT, sejak itu ia hanya tinggal bersama Ibu dan 3 Saudaranya. Dari pengamatan dan interview yang dilakukan penulis client adalah anak yang termasuk aktip, dikarenakan ia pernah bercerita bahwa ia adalah juara Bulutangkis tingkat Kabupaten dan bercita-cita menjadi atlet Badminton. Selain itu client adalah anak yang memiliki cukup kemampuan berpidato dan berpantun. 

Dari data yang didapt penulis client secara umum tidaklah memiliki masalah yang serious, selayaknya nak yang berumur 10 tahun dan harus tinggal di panti asuhan dan jauh dari orang tua. Tentunya clinet kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua, walupun di panti ada pengasuh. Tapi bila dilihat lagi di dalam panto hanya terdapat 4 pengasuh danharus mengasuh 30 anak. Hal ini sungguh tidak akan effectif.

Maka penulis berasumsi secara social client tidak memilki masalah dengan lingkunganya, serta client juga anak yang memiliki kemapuan lebih dalam bidang badmintoon. Jadi, penulis memberikan saran bahwa bila client dapat diberi bimbingan dan kehangatanyang baik bukan tidak mungkin bakat yang clint miliki bisa ia wujudkan di massa depan. Seperti cita-citanya menjadi atlet badminton.

Envirotment
      1.      Physical Envirotment
Sekarang client bertempat tinggal di panti asuhan Riajadul Jannah, tempatnya ia masuk pada tanggal 2 juli 2011, panti asuhan Riajadul Jannah sendiri  berada di daerah Sayang Jatinagor. Dari pengamatan penulis lingkungan panti yang bernuasa islami serta memilik fasilitas yang cukup menunjang bermanfaat bagi aktivitas client serta anak-anak panti. Dilingkungan panti sendiri terdapat musolah, ruang bermain, ruang santai, dan perpustakaan  bagi  anak panti.  Daerah panti sendiri yang strategis yang tidak terlalu jauh dari pusat pemukiman warga, memberikan dampak positp bagi client dan anak-anak panti yang lain. Di dekat panti asuhan juga terdapat lapangan voli dan kebun  serta tidak jauh dari  sekolah SDN Kanaga.

      2.      Culture
Client adalah anak yang berasal dari keluarga yang berkebudayaan sunda, almarhum ayah client adalah orang cikajang sedangkan ibunda client adalah dari Baros Garut. Dalam keseharian client juga memakai bahasa sunda. Pengamatan yang dialkukan penulis relevan dengan kebudayan client yaitu sunda yang cenderung bersikapp lembut dan ramah.

      3.      Social Intitutional And Social Structure
Dari data yang didapat selama proses obervasi dan interview, cleint adalah nak yang dalam megeyam pendidikan formal di sekolah adalah anak yang biasa-biasa saja, tetapi client memiliki kecenderungan memiliki kemampuan lebih di bidang extrakulikuler. Seperti olaraga badminton, berpidato, berpantun. Dari pengamtan penulis tentang aktivitas keseharin client di panti.

Client merupakan anak yang tidak banyak membuat masalah, ia cenderung baik. Serta ia memiliki teman-teman akrab di dalam panti. Client adalah anak yang beragama islam dan keseharaianpun ia terbiasa mengunakan jilbab. Dari pendapat client selama tinggal di panti yang lebih kurang sekitar 5-6 bulan. Client mengatkan ia merasa nyaman dan kerasan di panti. Walaupun kadang ia merasa rindu dengan ibu dan saudaranya di garut.

      4.      Dyads
Client adalah anak yang dekat dengan ibunya, dikarenakan sejak kecil ia selalu bersama dan sering membantu ibunya. Dari hasil pengamatan penulis client memiliki teman dekat yang bernama Keke, dan rupanya keke adalah saudara sepupu client yang tinggal bersama di panti asuhan Riajadul Jannah.

      5.      Families
Hasil interview yang penulis lakukan berhasil mendapatkan latarbelakang keluarga client. Almarhum  Ayah client bernama Hoer Efendi, yang berasal dari Cikajang, sedangkan Ibu client bernama Hotim Fatimah, yang berasal dari Baros Garut. Keluargaini memiliki 4 anak yaitu: anak pertama adalah Herlina yang sekarang bersekolah di SMA Jatinagor, yang kedua client, ketiga adalah Terhadiana, dan terakhir M. Akbar yang tinggal di garut.  

      6.      Small Group
Hasil pengamtan penulis client memiliki Small Group atau bisa dikatakan teman bermain. Client memiliki 3 teman bermain di Panti asuhan. Dan mereka merupakn anak-anak yang sebaya dengan client. Di sore hari biasanya mereka bermain di halaman depan panti. Serta mereka bersekolah di tempat yang sama di SDN Kanaga.

     7.      Formal Organization
Dari informasi yang penulis dapatkan client tidak secara aktip da;am berkontribusi dan mengurusi formal organization. Dikarenakan client hanyalah anak yang baru berumur 10 tahun dan ia masih beraktivitas dengan teman sebaya dan llingkungan panti saja.

      8.      Communities
Penulis beraggapan dari data yang didapat, client hanya berkumpul dan beraltivitas hanya di lingkungan panti asuhan Riajadul Jannah. Dan ia hanya bercomunitas dengan teman sebaya dan beraktivas secara islami yang ditanamkan di setiap anak –anak panti.

      9.      Social Movement
Dari data yang didapat client adalah anak yang tidak memliliki hamabtan dalam berinteraksi dan berkontribusi dengan lingkungan sosialnya. Client dahulu adalah anak yang tinggal di Garut, dan pada 2 juli 2011 ia dikirim oleh ibunya untuk masuk kepanti asuhan Riajadul Jannah. 

Dari hasil interview penulis dengan penjaga di panti. Pada awal client berada di panti, memang ia cenderung kakau dikarenkanan ia masih beradaptasi di lingkunganyang baru, tapi lambat laun ia mulai bisa bersosialisasi dan turut aktip dalam panti. Tidak ada halangan yang berarti di dalam panti, dikarenakan suasana isalami dan kekeluargaan di dalam panti memberikan rasa aman dan nyaman kepada client.

Time
      1.      Life Course
Clinet adalah anak yang berumur 10 tahun, ia berasal dari keluarga yang boleh dikatakankan serba kekurangan, client juga harus bersabar saat ayahanda client menghadap Allah AWT pada saat ia masih kecil. Jadilah clinet hidup bersama ibunya dan 3 saudaranya. Dikarenkana kesulitan ekonomi yang melilit, ibunda client mengirim kakak korban yang bernama Herlina untuk bertempat tinggal di panti asuhan Riajadul Jannah, kemudian tepat pada tanggal 2 juli 2011. 

Ibunda client mengirim client ikut kakaknya dan sepupunya yanitu keke tinggal di panti. Hari-hari awal client tinggal di panti terasa berat. Menurut sumber yang didapat, pada awal-awal kedatangan client di panti, client hanya diam dan berbicara seperlunya. Tapi lambat laun ia bisa berkomunikasi dan beradaptasi denganlingkungan panti. Clinet adalah anak yang memiliki kempuan lebih dalam bidang olaraga Badminton, clinet bercerita kepada penulis ia mengatakan waktu masih tinggal di Garut ia adalah juara 1 Badminton tingkat Kabupaten, dan sering mengikuti kompetis badminton tingkat desa. Client juga pandai dalam berpidato dan berpantun, client bercerita sering ia di suruh oleh sekolah untuk berpidato dan berpantun dalam kegiatan sekolah.

      2.      Life Event
Client keseharian mengeyam pendidikan di sekolah SDN Kanaga. Ia juga berpartisipasi aktip dalam kegitan rutin di panti seperti sholat 5 waktu berjamaah dan mengikuti undangan kegitan yang di alamatkan ke panti. 

Di pagi hari client bersekolah dan pada siang hari ia pulang dan beristirahat, dan bila ada tugas piket ia kan melakukannya terlebih dahulu, kemudian di sore hari setelah sholat asar, client dan teman-temannya bisa bermain di halaman panti atau di area kebun di depan panti atau menonton tv di raung santai panti. Di malam hari setelah sholat magrib dan isa, client melanjtukan makan malam dan kadang-kadang belajar ataupun menonton tv.

      3.      Constan Trends Cycle Shift
Dari data  yang didapat penulis, client dalama keseharian adalah anak yang baik dan tidak ada masalah dengan teman ataupun lingkungannya. Seperti halnnya nak yang berusia 10 tahun, ia masih perlu bimbingan dan kasih sayang serta waktu khusus untuk client mengaktualisasikan dirinya

. Dari hasil interview client memang bukanlah siswa yang unggul di bangku sekolah, melaikan biasa saja. Ia sering melatih dan bermain bulutangkis dengan teman-teman panti di waktu sore hari, dari kecil client bercita-cita ingin menjadi atlet badminton. Selayaknya panti asuhan yang berlatar belakang islam, sudah tentu panti memberikan nilai, norma, dan pendidikan sesuai dengan ajaran islam. Client dalam keseharianya bernuaansa islami, seperti client memakai jilbab, sholat 5 waktu, mengaji dll.

Conclusion
Dari hasil pengumpulan data penulis berasumsi person and envirotment client dapat di lihat mengunakan the Psychodinamic perpective.Karena client bisa seperti sekrang merupakan hasil dari pengalaman client pada dahulu kala.


CHILD SAFE GUARDING AND PROMOTING WELFARE

assalamualaikum
actually this is the first posting i had  in 2012, how about this content is, just share my task report in lecture. i thought this could be usefull for my friend and everyone have interested in children and social work. just share......



sebelum kita memulai dan melihat hasil dari laporan yang penulis  buat, alangkah baiknya penulis menjelaskan sedikit tentang apa sebenarnya postingan ini. postingan ini adalah hasil praktikum mata kuliah children and social work, yang dimana penulis berkerja sebagai konselor di sebuah panti asuhan yang tidak jauh dari kampus UNPAD Jatinagor, dan sebenarnya pada articel ini hanya membahas laporan identifikasi atau bahasa kerennya assessment, motivasi dari postingan ini hanya berbagai kepada teman-teman yang tertarik dalam bidang micro dan spesipiknya pada children, sebagai bahan literature.



Gambaran Singkat Client
Client  adalah anak yang berusia 10 tahun dan lahir di Bandung 1 juli 2001, bersekolah di SDN Kanaga kelas V . Client berasal dari pasagan bapak Ujang dan ibu Titin. Karena keluarga yang mengalami kesulitan  ekonomi, pada tanggal 1 juni 2011 client dikirimkan ke panti asuhan Riajadul Jannah.

Nama                       : xxxxxxxxxxxxx
Alamat                      : Desa lamajang Kec. Pangalengan Bandung
Tempat/Tgl Lahir     : Bandung 1 juli 2001
Hobi                          : Bermain (lompat tali, hula hup), Membaca
Cita-Cita                  : Dokter
Ayah                         : Ujang
Pekerjaan                : Buruh
Ibu                             : Titin
Pekerjaan                : IRT
Saudara                   : 1. Wina (menikah, tinggal di Cilenyi)
                                    2. Kikin  (sekolah pesanteren di Jakarta)
                                    3. Dede (sekolah SMP di Garut)
                                    4. Bena (umur 3 tahun)

Parenting Capasity
     1. Basic care
Dari hasil pengamatan dan interview,  dalam pemenuhan kebutuhan dasar client dapat diketahui, client mendaptkan makan tiga kali sehari (pagi, siang, malam). Serta lauk pauk yang tersedia adalah nasi, sayur-sayuran, tahu, tempe, telur, daging dll. Client juga mengatakan kadang-kadang pihak panti memeberikan susu kepada client dan anak panti yang lain.

Pemenuhan kebutuhan sekolah, menurut sumber yang dapat dipercaya. Pihak panti memberikan fasilitas perlengkapan sekolah seperti baju, alat tulis, buku, dll. Pihak pantipun memberikan uang ongkos kesekolah kepada client sebesar Rp. 1.000-/perhari setiap anak di panti.

Menurut client dalam satu kamar terdiri dari 3-2 orang anak, dan satu kamar dengan client adalah teman sebayanya yaitu devi dan dian. Pengakuan client juga mengatakan ia biasanya melakukan kegiatan belajar selesai sholat isa.

       2Ensuring Capasity
Menurut pengakuan pak  Ido sebagai salah satu pengasuh di pandi, pihak panti selalu memberikan dan langsung mengurus. Bila dimana ada anak panti yang sakit atau bermasalah di sekolah. Pak Ido juga menambahkan bahwa biasanya bila terdapat anak-anak panti yang tidak sehat akan langsung dibawa kerumah sakit ataupun puskesmas. Menurut pak Ido selama ini alhamdulilah anak-anak panti belum pernah mengalami sakit yang berat, paling barter demam, flu, dan batuk.

Pak Ido juga menegaskan bahwa pihak panti juga bekerja sama dan saling memonitor perkembangan anak di sekolah, ia mengatkan pihak panti dalam 1-2 bulan sekali mengunjugi sekolah untuk mencari tahu perkembangan si anak.

Di panti sendiri terdapat empat orang pengasuh pak Ido, Istri pak Ido, Teh Sari, dan Pak Tatang.  Pengakuan dari client sendiri, ia mengatakn tinggal di panti, ia cukup senang, dikarenakan ia bersama teman-teman dan lingkungan islam di panti sendiri.

       3. Emotional Warmth
Dari hasil pengamatan penulis selama melakukan proses observasi. Kebutuhan emotional warmth yang diberikan pihak panti memang ada seperti pemerian kebutuhan dasar, pemberian bimbingan islam, dan penanaman nilai ahlak. Tapi hanya saja dikarenakan jumlah anak di panti yang berjumlah 30 anak, sedangkan pihak pengasuh hanya ada 4 orang. Hal tersebut sungguh tidak sebanding. Dan tentunya pemberian emotional warmth tidak secara menyeluruh

Pak ido juga mengatakan dalam mengurus anak-anak yang jumlahnya 30 anak, dirasa sangat sulit untuk memperhatikan dan membimbing mereka satu persatu. Ia juga mengatakan ia sering memberikan intruksi kepada anak-anak panti yang lebih dewasa untuk bisa menjadi pembimbing dan memperhatikan adik-adiknya yang lebih kecil.

Selian itu teh sari juga mengatakan bahwa, kadang kala memang pemberian kehangatan dan kasih sayang lebih baik dari orang tua kandung si anak, tapi pihak panti berusaha sebiak mungkin memberikan jalan yang terbaik. Seperti memberikan kenyamanan dan rasa kekeluargaan di dalam panti.

       4. Stimulant
Dari hasil interview, penulis mendapatkan info bahwa. Client dalam keseharian mendapatkan stimulant dari panti, seperti mendapatkan bimbingan sekolah dari para kakak-kakak yang ada di panti, biasanya client bila mendapatkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas dari sekolah, kakak-kakaknya melakukan bimbingan dan menemani proses pengerjaan tugas tersebut.

Pak ido juga mengatakan, pemerina stimulant khususnya di panti. Dilakukan dengan sesuai ajaran islam. Anak-anak panti diajari bagaiman bertingkah laku, berbicara, bertindak sesuai dengan kaidah ajaran islam. Anak panti diajarkan nilai, norma dan aklak yang baik. Setipa ank wajib melakukan sholat 5 waktu, berpuasa, dll.

       5. Guidance And Boundaries
Menurut pak ido dan teh sari, pihak panti memberikan bimbingan kepada client dan anak-anak panti berlafaskan islam. Mereka di berikan pembelajaran dan pemahaman keislaman, dan tentunya hal-hal yang melangar dijauhkan dari anak-anak panti.

Pak ido juga menambahkan, bahwa ia sering memerikan masukan dan perintah kepada anak-anak panti yang lebih tua ajar mengajari dan membimbing adek-adek mereka. Pak ido juga mengatakn kakak-kakak yang ada di panti menjadi panutan bagi adeknya.

       6. Stability
Menurut penulis berdasarkan hasil interview, client dalam keseharian di panti turut aktip dalam kegitan panti. Menurut teh sari, client adalah nak yang baik sejak pertam masuk panti, ia tidak menunjukan permasalahan dan anaknya baik, client di anggap teh sari adalah anak yang rajin.

Di panti sendiri terdapat menurut pak ido, anak- anak secara rutin diberikan pemenuhan kebutuhannya. Pak ido juga mengatakan untuk proses dana dalam membiayai panti, selama ini tidak terjadi masalah. Alhamdulilah dana yang ada cukup dan dapat memberikan pemenuhan kebutuhan anak-anak panti.

Child Development Needs
     1. Health
Dari hasil pengakuan client, ia mengatakn ia memiliki penyakit maag, tetapi hal tersebut terjadi bila ia telat makan, dan client juga mengatakan bahwa pernah ia di bawah ke puskesmas karena penyakit maag.dan alhamdulilah ia mengatakn bahwa sekarang ia sehat saja selam di panti.

Pak ido juga mengatakan bahwa client selam tinggal di panti tidak megalami sakit yang berat. Paling masuk angin dan batuk pak ido megatakan lagi. Tentuny apak ido mengatakan bahwa bila ada ada yang sakit di panti pihak panti pasti langsung membawa anak tersebut ke puskesmas atau ke dokter.

      2.  Education
Menurut pak ido kebutuhan akan pendididkan setipa anak panti, akan dibiayai oleh panti sampai si anak lulus kuliah. Pak ido juga mengatakan pemenuhan kebutuhan pendidikan client sama seprti anak-anak lainya, tidak ada diskriminasi semua anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik

Penulis juga mendapatkan data dari client sendiri bahwa, client sangat menyukai mata pelajaran matematika dan ia kurang begitu mengerti pelajran bahasa inggris dan IPS.client juga bercerita selama disekolah SDN Kanaga, ia tidak pernah mendaptkan masalah ataupun membuat masalah.

3. Emotional Behavior Development
Dari hasil interview pak ido dan teh sari, penulis mengetahui bahwa client adalah anak yang baik, selama tinggal di panti, client selau turut berkontribusi dan ia juga ragin mengerjakan piket rutin.

Dalam keseharian dari pengamatan penulis, client adalah anak yang periang, karena ia selalu bermain bersama-teman-temanya di saat penulis bekeunjung ke panti. Dari tutur dan sikpa client adalah anak yang baik. Dari pengakuan teman sebayanya juga megatakan client adalah anak yang selalu membantu teman dan bersikpa baik sesama.

Penulis juga bisa memaklumi bila client orangnya pemalu bial diajak interview, dikarenakan anak seumuran client memang masih tumbuh dan berkembang.

      4. Identity
Client adalah anak yang berasal dari keluarga yang berkebudayaan sunda, dan tentunya dalam bersikap dan bertutur kata, ia sopan dan lembut, khas orang sunda. Client menganut ajaran islam, serta ia juga mengunakan jilbab dalam kesehariannya.

Client juga fasih berbasa sunda dan berbasaha indonesia ia juga cukup lancar.menurut sumber yang dapat dipercaya. Client adalah anak yang rajin dan mengerti kebersihan. Client adalah anak yang suka akan kerapian. Ia mandi, merapikan temapt tidur, dan piket rutin.

Client juga bercita-cita kelak inginmenjadi dokter, dikarenakan ia ingin menolong orang-orang yang sakit.meliaht dari penampilan keseharian client penulis beragapan memang klien adalah anak yang rapi dan baik.

       5.   Family And Social Relation
Client adalah anak dari pasaangan bapak ujang dan ibu titin, kelaurga ini tinggal di pengalengan bandung. Bapak client hanyalah seorang buruh dan ibu client adalah ibu rumah tangga biasa. Client memilki 4 saudara. Memang dikarenakan kesulitan dalam perekonomian client dikirimkan ke panti.

Sebelum client tinggal dipanti, kakak client yang lebih besar telah tinggal di panti riajadul jannah. Dan menurut client sendiri ia adlah saudara sepupu dengan temannya dian. Dikarenakan ibu client menikah lagi dengan pamannya si dian. Bapak kandung dian tidak tahu lagi kabarnya. Semenjak client kecil sudah ditinggalkan.

      6.   Social Present
Dari hasil pengamatan penulis bisa digamabarkan, client adalah anak perempuan yang berusia 10 tahun, yang berkulit sawo matang, mengenakan jilbab dalam kesehariannya. Client dalam bertingkah laku dan berucap dengan baik dikarenakan ia berasal dari kebudayaan sunda.

Dari keseharian sendiri client turut aktip dalam kegitan panti, seprti shol;at, nagaji dll. Serta client juga mengatakan bahwa ia suka mengikuti kegiatan sekolah seprti olaraga voli dan bernyayi.

Dari pendapat pak ido tentang perkembangan client selama tinggal di panti, ia mengatakan tidak ada hal yang salah, client tumbuh dan berkembang dengan baik.

      7.   Welfare Skill
Dari hasil interview dengan client, ia mengatakan bahwa sangat suka bernyayi tapi hanya saja ia belum memiliki keberanian untuk tambil di khalayak banyak. Client juga suka bermain lompat tali dan hula hop, kegitan itulah yang sering dilakukan di sore hari.Client juga mengakui bahwa ia tertarik denganmata pelajarn matematika dan kurang begitu paham dengan mata pelajaran bahasa inggris. Menurut penulis secara umum tumbuh kembang client terlibaht baik dan tidak ada hamabtan, dan interaksi client dengan lingkungan terjadi dengan lancar. Sedangkan bila ditinjau dari aspek mental, client sama sepreti anak-anak yang sebaya dengannya. Menurut teh sari juga, client adalah oanak yang mandiri, ia terbiasa dalam menyusun, merapaikan dan meangatur dirinya sendiri. Lanjut kata teh sari client juga terbiasa melakukan sesuatu tanpa harus disuruh.

Family And Envirotment Factor
     1.   Community Resources
Dari hasil pengamatan penulis untuk keadan panti sendiri, penulis rasa cukup, panti memiliki ruang bermaian, ruaang santai, perpustakaan, mesjid, arena permaianan. Serta memiliki fasilitas olaraga seperti meja ping pong dan bola.

Panti riajadul jannah terletak di daerah sayang, dan berdektan denga pemukimana masyarakat. Di dekat panti terdapat SD dan di depan bagunan panti terdapat tanah lapang dan kebun. Lingkungan panti yang jauh dari hiruk pikuk modernisasi jatinaor, memberikan ketenangan dan damai anak-anak panti.

Clinet memilki teman bermian di panti, ia adalah teman sekamar dari client. Tapi secara umum client bermain dan berinteraksi dengan semua oran gyang ada di panti. Client dalam mengisi waktu sore hari biasanya mealukana aktivitas bermain seperti lompat tali, hula hop, dan bermain bola.

      2.   Family Social Integration
Dari hasil pengamatan penulis, keberadan panti yang dekat dengan pemukiman warga, serta berdekatan denga universitas. Memberikan dampak positip bagi panti itu sendiri. Serin gkali pihak universitas berkunjung ke panti atau mengundang anak-anak panti dalam acara kampus.

Sudah sejak lama para mahasiswa unpad sering bekerja sama dengan panti, peihak mahasiswa melakukan praktek disana dan secara tidak langsnung dapat memberikan pengaruh positp kepada anak –anak panti.

Panti riajdul jannah sendiri telah banyak dikenal oleh banyak di skeitar jatinagor. Diakrenkan panti ini dahuluny apendirinya adalah profesor dari unpad. Secara umum lingkungan sekitar panti asuhan baik dan tidak terjadi hal-hal yang bisa mengancam ataupun mengangu panti itu sendiri.

      3.   Income
Dari hasil interview dari pak ido, ia mengatakan bahwa pendanaan dalam menjalankan panti berasak dari donatur, dari pemerintah, hibah, sedekah. Unutk rincian dana tersbut pak ido tidak dapt menjelaskan.Ia juga bersukur selama ini tidak ada masalah dalam  pendanaan.

     4.   Employment
Dari penjelasan pak ido, tentang pendanan. Ia mengatakan untuk besaran dan penglaokasian dana itu pak tatang yang mengurus dan tidak etis kalau dibicarakan.

      5.   Housing
Dari hasil pengamatan penulis keadaan panti secara umum cukup menunjang dan memiliki fasilitas. Seperti mesjid, ruang makan, toilet, raung tamu, ruang bermain, ruang belajar, dll.

Di panti riajadul jannah sendiri terdapat 30 anak, 20 anak perempuan dan 10 anak laki-laki. Setiap anak menempati kamr dan dalam satu kamr biasanya terisi 3 sampai 2 anak. Pengamatan penulis meliaht keadan kamar di panti, cukup baik, terdapat ranjang yang bertingkat dan ada yang tidak bertingkat. Fentilasi setipa kamar jauga baik. Dan setipa kamr disediakan meja belajar dan lemari pakaian. Bila dlihat ukuran kamar, penulis rasa diras cukup untuk anak –anak yang berusia 8-20 tahun.

Di panti terdapat 4 pengasuh, tapi secara umum anak panti yang telah dewasa diharpakan dapat membimbing adik-adiknya.

      6.   Wider Family
Dari hasil wawancara kepada pak ido dan teh sari serta pak tatang, selama ini secara umum, anak panti tidak mengalami onflik berkepanjangan. Memang dikaui kadang ada perkelahiankecil antara anak-anak. Dan hal itu iasa karena anak-anak masih memilki ego dan aktip.

Pak ido juga mengatakan bahwa jumlah anak dan bangunan panti sendiri sudah cukup menampung. Secara khusus anak panti satu sama lain adalah bagaikan satu keluarga.

      7.   Family Housing And Fungctioning
Dari data yang di dapat, client adalah anak yang berasal dari keluarga yang memang mengalami kekurangan. Ayahnya hanay seorang buruh dan sedangkan ibuny hanya ibu rumah tangga biasa. Sejarahnya dahulu kaka client yang pertama tinggal di panti, kemudian pada tanggal 1 juni 2011 client dikirim ke panti asuhan dikarenakan kesulitan ekonomi.

Clinet tinggal di panti kurang lebih 5-6 bulan, dari apa yang terjadi sekarang, client sudah bisa beradapatasi dan berkontribusi di panti. Secara umum rasa kekeluarggan yang ada di panti telah membuat client merasa kerasaan tinggal disana.

Saturday, December 17, 2011

Seminar Nasional "Social Protection For Difabel"



assalamualaikum
proudly present !
Seminar Profesi Pekerjaan Sosial 2011 dengan tema "Social Protection For Difabel" 
(perlindungan sosial bagi penyandang cacat).

Hari       : Selasa, 20 Desember 2011 & 

               Rabu, 21Desember 2011
Waktu   : 08.00-16.00
Tempat : Gedung Graha Sanusi UNPAD 
               Dipati Ukur, UNPAD Bandung
 

Keynote Speaker :
- Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat)
- Dada Rosada (Walikota Bandung)

Dengan pembicara :
- Ditjen ODK Kemensos
- Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos
- Nani Rosada (Ketua RBM)
- Ibu Sri (YPAC)
- Bapak Markus (Precious One)
- Soegeng (Pembuat seribu kaki palsu)
- Ibu Dwi Ariani (Handicap International)
- Bapak Yayat (Bengkel 19)

dimeriahkan oleh LISES UNPAD, DIsable+, Bengkel 19, Door prize, and many more..

HTM:
mahasiswa UNPAD Rp. 40.000 (2 hari seminar)
mahasiswa non UNPAD Rp. 45.000 ( 2 hari seminar )
umum Rp. 80.000 (2 hari seminar)

Untuk informasi lebih lanjut hub : 
Lita 085782360000
Fika 087827732321